Yoga, Atasi Stres pada Anak

Oleh: Yenti Aprianti

(Dimuat Kompas, Minggu 25 September 2005)

Dua anak berusia balita tampak antusias beryoga. Meskipun belum dapat meniru gerakan-gerakan yang diberikan fasilitator dengan sempurna, namun mereka terus berusaha.

Tak jarang, anak-anak tersebut harus tertatih-tatih untuk bisa meletakkan satu telapak kaki di pangkal paha kaki lainnya. “Tidak apa-apa sampai di situ saja. Ayo kita teruskan,” kata Pujiastuti Sindhu (28) sambil membantu seorang anak mempertahankan kaki agar menempel di betis.

Pujiastuti yang lebih dikenal dengan nama Ujie ini tengah mengajar anak-anak berlatih yoga di sebuah sanggar yoga di Jalan Dr Sukimin, Bandung, Sabtu (3/9).

Ujie tidak menyebut gerakan tersebut sebagai gerakan vrksasana seperti kalau ia mengajar yoga pada orang dewasa. Ia menyebut posisi itu sebagai posisi pohon. Ujie pun memainkan imajinasi agar anak-anak senang mengikuti kelas yoga. Tangan ia rentangkan untuk menggambarkan ranting.

“Ayo kita gerakkan ranting ke kiri, ke kanan,” ujarnya.

Untuk gerakan lain pun Ujie menggunakan imajinasi anak. Ketika mengajarkan gerakan pohon, Ujie juga membuat gerakan yoga yang memperlihatkan bagaimana pohon tumbuh. Anak-anak diajak berjongkok sebagai benih, lalu berdiri pelan-pelan untuk menunjukkan pertumbuhan benih menjadi pohon. Setelah itu, pohon ditumbuhi ranting.

Pohon bisa hidup dengan baik jika tumbuh dari tanah yang subur. Cacing merupakan salah satu binatang yang mampu menyuburkan tanah. Ujie lalu mengajak anak-anak meliuk-liuk sambil melata seperti cacing.

Informasi tambahan

Ujie selalu memberikan informasi tambahan kepada anak-anak karena mereka biasanya takut cacing. Informasi yang singkat dan mengena diharapkan membuat mereka tak bosan melakukan gerakan yoga dan membangkitkan empati anak-anak.

Gerakan sulit pun terasa mudah ketika disampaikan dengan mendongeng. Ujie merentangkan kedua kaki lalu menelungkupkan badan. “Ini adalah sandwich,” ujar Ujie sambil mengusap lantai dari ujung kaki kiri hingga ujung kaki kanan yang merentang membentuk segi tiga.

“Kalian suka sandwich?” tanya Ujie. “Kamu suka sandwich rasa apa?” lanjut Ujie kepadasalah satu anak yang dibimbingnya. “Cokelat,” kata anak itu. Ujie pun pura-pura mengoleskan cokelat di lantai yang diimajinasikan sebagai roti.

Setelah diisi berbagai rasa, roti ditutup. Caranya, tubuh ditelungkupkan mencium lutut kiri dan bergerak ke arah lutut kanan.

“Pada anak-anak, satu gerakan hanya bisa dilakukan dua detik saja, karena anak-anak mudah bosan. Sedang pada orang dewasa bisa satu menit per gerakan,” ujar Ujie.

Waktu latihan pun hanya 45 menit, sedang orang dewasa bisa satu sampai 1,5 jam per latihan. Oleh karena gerakan yoga anak tak berat, anak-anak diperbolehkan makan sebelum berlatih. Padahal, aturan untuk orang dewasa, mereka harus mengosongkan perut selama dua jam sebelum berlatih.

Meski demikian, kata Ujie, yoga anak tetap memiliki tujuan. Anak- anak diharapkan bisa merasa nyaman dengan dirinya.

Ujie, lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, yang mendalami yoga di Bandung, Jakarta, India, Singapura, dan AS ini mengatakan, yoga untuk anak didirikan oleh Marsha Wenig di Michigan, AS. Marsha terinspirasi perkataan pakar pendidikan Dr Maria Montessori bahwa perkembangan pikiran lahir lewat gerakan.

Pada dasarnya, yoga untuk anak dibagi dalam kelas usia 3-5 tahun dan 6-12 tahun. Menurut Ujie, melalui yoga, anak dapat meningkatkan kelenturan, kekuatan, fleksibilitas, koordinasi, dan kesadaran akan tubuh. Yoga juga memperbaiki konsentrasi dan meningkatkan ketenangan anak.

“Menurut psikolog Gordon Stoke, 80 persen kesulitan timbul karena stres. Oleh karenanya atasi dulu stres, maka kesulitan akan teratasi,” ujar Ujie yang meyakini yoga bisa membantu menghilangkan stres pada anak.

Riama Maslan Sihombing (43) yang mengajak dua anaknya ikut yoga merasakan manfaatnya. “Mereka bisa lebih tenang. Sekarang juga mereka tidak takutpada cicak dan kecoa. Sebelum tidur saya ajak mereka mengatur napas dan mengatakan ‘saya tidak takut cicak’,” ujar Riama.

Ia juga membawa anaknya mengikuti kelas yoga agar mereka tidak stres dengan pelajaran di sekolah. “Anak-anak sekarang kasihan. Di sekolah beban mereka sangat banyak. Saya pikir anak-anak harus berlatih menenangkan diri,” kata Riama yang membawa anaknya berlatih setahun lalu.

Selain itu, melalui yoga, anaknya juga diajarkan mengenal lingkungan dan berempati pada segala sesuatu yang hidup di sekitarnya melalui gerakan dan informasi yang diajarkan fasilitator yoga.

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: