Biarkan Anak Bergerak Aktif

paba manjat pohon

foto: Apiyenti

 

Duuuh…anak saya kok enggak mau diam ya. Maunya bergerak ke sana kemari. Sambil menonton tv saja melompat-lompat. Lihat sofa langsung naik dan loncat berkali-kali bolak-balik begitu. Kasur di kamar pun dijadikan trampolin. Hadeuh….Kadang gerakannya itu bikin jantung mau copot deh. Apa semua anak usia sekolah dasar itu begitu ya?

Saya mulai memperhatikan teman-teman di sekolahnya. Eaaa…banyak di antara mereka pergi ke sekolah dengan membawa bekal…tali karet. Buat apa lagi kalau bukan untuk main loncat dan lompat.  Pantas saja, beberapa hari belakangan anak perempuan saya itu  rajin betul mengumpulkan karet gelang bekas bungkus makanan dan belanjaan lainnya di dapur.

Suatu hari, persis sepulang saya menjemputnya di sekolah, anak saya mulai merajuk minta dibelikan sekantung karet gelang di pasar tak jauh dari sekolahnya.

“Temenku aja kemarin dibelikan karet gelang loh sama ibunya,” ujarnya.

“Pasti mau dipakai main loncat tali ya?” tebakku.

“Ih, kok tahu. Ibu dulu pernah enggak main loncat tali?” tanyanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia  meneruskan bicara. “Seru loh, Bu. Aku mau lah punya tali karet biar bisa belajar loncat di rumah. Temanku suka ajak aku main. Uh…aku seneng banget. Tapi  ternyata aku belum bisa. Malu lah, Bu,” katanya panjang lebar, penuh alasan.

Sambil berjalan kaki menuju pasar, saya bilang dulu saya juga main loncat tali saat seusia dengannya. Tapi bermain loncat tali sebaiknya hati-hati, tidak boleh di tempat yang licin dan harus bisa menyeimbangkan tubuh. Sebab, jika setelah meloncat seseorang tidak dapat mendarat dengan tepat, bisa-bisa tubuh cedera.

“Ibu memang pernah celaka gara-gara main lompat tali?” tanyanya.

“Pernah. Sampai bengkak pergelangan kakiku karena kepelitek (nah loh, apa ini? Hihi…semacam keseleo begitu ya). Bengkaknya sebesar guling (hihi…hiperbola memang kemampuan spontan banyak ibu ya).”

“Makanya berlatih dulu  sebelum main,” ujar anakku (menasehati adalah kepandaian anak-anak yang baru lepas balita, bukan begitu? Haha..).

Kami sampai di dalam pasar. Keinginannya untuk memiliki tali karet akan terwujud siang ini. Kami membeli sekantung karet di kios penjual kemasan seperti kantung plastik dan kardus-kardus makanan. Harga per ons  Rp 5.000 untuk karet gelang kecil berwarna kuning.  Cukup untuk membuat tali karet yang cukup panjang.

Sampai di rumah, saya menjalin karet gelang itu menjadi tali yang panjang. Tidak menunggu lama setelah makan dan mandi, anakku langsung bermain lompat tali. Karena belum lihai, dia sering melakukan gerakan-gerakan “mengerikan”. Rasanya seharian harus ekstra perhatian menemani dia belajar lompat tali.

Untungnya setelah sebulan  berlatih di rumah dan di sekolah secara rutin (udah kayak mau jadi atlet lompat tali aja nih), anakku akhirnya bisa betul-betul lompat tali dengan luwes dan hampir selalu mendarat dengan seimbang. Syukurlah.

Oh ya, selain main lompat tali, dia juga senang memanjat pohon. Berlari, berenang, dan bersepeda (sayang untuk yang ini…sudah dua tahun tapi belum juga mahir…hiks).

Motorik Kasar Anak

Awalnya, saya sering berpikir, aduh…apa anak ini enggak capek ya bergerak melulu? Eh ternyata, kekhawatiran saya enggak beralasan. Dalam buku Early Character Development and Education karya Berkowitz, Marvin W, dan John H Grych, anak-anak usia sekolah dasar memang senang bergerak.  Justru anak cenderung lebih mudah lelah saat duduk dibandingkan berlari, melompat, atau main sepeda.

paba main sepeda

foto: Apiyenti

 

Di usia sekitar 6 – 12 tahun, kemampuan motorik kasar mereka berkembang. Mereka mulai menguasai berbagai kemampuan motorik kasar seperti berlari, memanjat, bersepeda, melompat, berenang, dan main skate.

Anak  laki-laki biasanya memiliki kemampuan motorik kasar lebih baik dibanding anak perempuan. Anak usia sekolah dasar masih belum matang fisiknya, itu sebabnya mereka perlu bergerak aktif. Jadi jika anak tampak sangat aktif, biarkan saja selama tidak membahayakannya.

Orangtua perlu membimbing anak agar berhati-hati dalam bergerak terutama pada anak yang memiliki bakat celaka. Menurut Dr. Handrawan Nadesul dalam bukunya Sehat itu Murah, memang ada loh anak yang memiliki kecenderungan untuk mendapat celaka atau disevut accident proneness. Itu sebuah factor yang suka tidak suka harus disandang.  Anak yang memiliki kecenderungan ini harus dibimbing untuk selalu menyadari kekurangan dirinya dan harus selalu dilatih untuk siap, siaga, serta waspada saat beraktivitas fisik sehari-hari terutama saat bersepeda dan berolahraga.

Bergerak adalah Investasi bagi Anak

anak bergerak

foto: Apiyenti

 

Bagi anak, menggerakkan tubuhnya secara aktif bukan saja kebutuhan yang harus dipenuhi saat ini, tetapi juga investasi di untuk masa depannya. Itu sebabnya orang tua perlu memahami mengapa anak harus bergerak aktif.

Membiasakan anak bergerak aktif dan berolahraga rutin merupakan kebiasaan yang berpengaruh baik bagi otot jantungnya. Otot jantung orang yang terbiasa bergerak aktif lebih kuat dari otot jantung orang yang kurang bergerak. Studi menunjukkan otot jantung atlet  lebih tebal  dan terlatih dari jantung orang yang bukan atlet . Jantung yang ototnya lebih tebal dan kuat tidak rentan terhadap guncangan apapun jenis penyakit yang menimpa jantung. Misalnya, jika seseorang di masa dewasa memiliki penyakit darah tinggi yang menahun, jantungnya akan lebih kuat bertahan.

Anak yang memiliki otot jantung yang kuat sejak kecil, akan memiliki jantung yang kuat hingga usia tuanya. Jantung yang kuat akan mampu memompa sejumlah darah ke seluruh sel tubuh. Jalur pengirimannya melalui pembuluh darah. Pada orang yang memiliki jantung yang kokoh, sekali pompa, jantungnya mencurahkan darah lebih banyak dibanding orang yang jantungnya jarang dilatih. Jantung yang kokoh bekerja lebih efisien.

Dr. Handrawan Nadesul menyarankan dengan sungguh-sungguh agar sejak usia sekolah dasar orangtua sudah harus mendidik anak agar dapat merawat jantungnya. Anak harus dibiasakan makan jenis menu rendah lemak, tinggi sayuran dan buah, dan rutin bergerak badan.

Rutin bergerak mampu memotong resiko penyakit jantung koroner sepenuhnya. Penyakit jantung koroner timbul karena pembuluh darah tersumbat. Gerak badan apapun bentuknya akan membuat pembuluh darah menjadi lentur.

Selain koroner, bergerak aktif menghindarkan berbagai penyakit lain saat anak telah dewasa, antara lain kanker usus, prostat, dan kanker payudara.

Waaah…banyak ya, manfaat bergerak badan bagi anak-anak. Hm…kayaknya saya mau suruh anak saya lebih sering lompat-lompat dan loncat-loncat deh ya. Pasti dia sueneng banget. (Ynt)

~ oleh warungminum pada Maret 29, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: