Sulit Libatkan Para Lelaki dalam Kampanye Cuci Tangan

Oleh: Yenti Aprianti

(Dimuat Kompas, Lembar Jawa Barat, 13 Desember 2006 dengan judul Mitos Perempuan dalam Kebersihan dan Kesehatan)

Mengajak kaum lelaki untuk terlibat dalam kebersihan dan kesehatan bukanlah hal yang mudah. Saat tim dari Enviromental Services Program (ESP) USAID berkunjung ke Padalarang, Kabupaten Bandung, untuk mengadakan diskusi mengenai kebersihan dan kesehatan, para lelaki di daerah itu menolak ikut diskusi. Alasannya? Kebersihan dan kesehatan bukanlah urusan kaumnya.

Begitupun ketika tim ESP US-AID memperlihatkan foto yang menggambarkan seorang perempuan tengah berada di dekat pompa yang rusak. Sebagian besar kaum lelaki di Jabar memiliki persepsi bahwa foto itu menggambarkan perempuan sedang memperbaiki pompa air, dan hal tersebut merupakan tindakan tidak pantas bagi perempuan. Tugas perempuan adalah mengambil air, tetapi memperbaiki mesin pompa air adalah urusan lelaki.

Rupanya di provinsi ini pembagian tugas antara lelaki dan perempuan masih dipisahkan dengan sangat tegas. Padahal, di provinsi lain banyak kaum lelaki yang menganggap memperbaiki pompa air masih bisa diterima. Mereka juga dengan mudah mau ikut dalam diskusi soal kebersihan dan kesehatan.

Kembali pada kisah penolakan kaum lelaki di sebuah daerah di Padalarang, para lelaki baru mau akhirnya mereka mau ikut diskusi setelah banyak menonton iklan layanan masyarakat tentang flu burung. Mereka mulai merasa perlu terlibat dalam berperilaku bersih dan sehat. Dalam iklan tersebut dianjurkan agar seluruh masyarakat, baik lelaki maupun perempuan, membiasakan mencuci tangan.

“Mereka memang masih menganggap mencuci tangan bukan bagian dari kesehatan dan kebersihan, tapi hanya agar terhindar dari penyakit flu burung,” ujar Nona Pooroe Utomo, Koordinator Komunikasi Kesehatan ESP USAID.

Ia menilai perbedaan jender yang masih lebar di Jabar perlu mendapatkan perhatian khusus agar budaya sadar dan mencintai kebersihan dan kesehatan di Jabar bisa merata di seluruh kalangan.

Urusan rumah tangga

Antropolog dari Universitas Padjadjaran, Budi Rajab, berpendapat masyarakat Jabar masih menekankan dekatnya hubungan kesehatan dan urusan perempuan.

Kesehatan dan kebersihan masih dianggap sebagai urusan rumah tangga sehingga masih dikategorikan sebagai urusan perempuan. Sementara urusann lelaki adalah bekerja di luar rumah. “Pandangan seperti inilah yang menyebabkan angka kematian ibu dan bayi di Jabar lebih tinggi di antara provinsi lain di Indonesia,” ujar Budi.

Ketidakpedulian lelaki terhadap kehamilan, proses melahirkan, dan program Keluarga Berencana merupakan bagian dari pandangan lelaki menyangkut masalah kesehatan. Pandangan tersebut jelas menjadi penghambat kemajuan pembangunan.

Masyarakat juga menganggap bahwa kerusakan lingkungan dan buruknya sanitasi hanya akan merugikan kesehatan seseorang. Padahal, jika seorang lelaki sakit, ia tak bisa bekerja. Jika tidak bekerja, pemerintah tidak dapat menarik pajak terhadapnya. Itu artinya, biaya pembangunan pun akan berkurang.

Akibat lain tidak meratanya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungannya bisa mengakibatkan ketimpangan dan menyebabkan timbulnya banyak wabah penyakit dan bencana alam.

Jabar pernah mengalami beberapa kali tragedi longsor sampah, antara lain satu kali pada tahun 1994 di Cimahi dan dua kali pada tahun 2005 di Desa Jayagiri dan TPA Leuwigajah. Selain itu, kasus penyakit seperti diare, kaki gajah, flu burung, dan AIDS terus bertambah.

“Seharusnya pemerintah dan lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap masalah kebersihan dan kesehatan bekerja lebih keras lagi mendorong kesadaran warga Jabar bahwa kebersihan dan kesehatan lingkungan serta sanitasi adalah tanggung jawab publik,” kata Budi.

Karena merupakan tanggung jawab publik, urusan kesehatan dan kebersihan tidak dibedakan lagi berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, dan lokasi masalah. “Ketika melihat sampah di muka rumah tetangga terus teronggok, sebaiknya warga mau berinisiatif memberitahu atau langsung membersihkan sampah tersebut. Sebab, bibit penyakit yang ditimbulkan sampah bisa meluas ke wilayah lain selain rumah tersebut,” ujarnya.

Menurut Budi, Jabar tentu tak mau ketinggalan dalam pembangunan kesehatan dan kebersihan lingkungannya. Karena itu, peningkatan kognisi dan afeksi warga, terutama kaum lelaki, perlu juga ditingkatkan. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Maret 31, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: