TANDING WEDDING (2)

burung

sumber: pinterest.com

Dari GOR ke Hutan Mini

Setiap pulang kuliah kerjaan saya cuma mengamati gedung, rumah, aula sekolah, GOR sekolah, atau apa kek yang kira-kira bisa dipake buat resepsi. Rumah sebetulnya nganggur, tapi kasihan tetangga harus keganggu. Jadi mau ga mau sewa gedung aja deh. Tapi mimpi saya ga bisa tinggi-tinggi soalnya gedung-gedung pernikahan pastinya harga sewanya mahal. Jadi saya mulai mengincar gedung-gedung atau ruang-ruang publik yang ga pernah dipake resepsi pernikahan tapi berpotensi dan strategis.

Di dekat rumah ada sekolah SMP swasta berhalaman luas. Lumayan nih, pikir saya waktu itu. Saya udah minta orangtua nanya-nanya. Kebetulan orangtua saya cukup kenal dengan pemilik sekolah tersebut.  Tapi entah kenapa, orangtua saya enggak sempat-sempat nanya karena beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya dan rencana pensiun dininya.

Waktu makin dekat, saya pun mengajak adik saya untuk mendatangi  sekolah SMA-nya. Sekolahnya memiliki Gelanggang Olah Raga dan halaman cukup luas. Waktu itu ketemu deh dengan pihak sekolah. Ternyata meskipun saya calon penyewa pertama, tapi ongkos sewa untuk sebuah Gedung Lapangan Basket tanpa AC udah cukup mahal yaitu sekitar Rp 2,5 juta. Hihi…buat saya itu mahal loh.

Denger harga sewa segitu, bikin hauuuuuus (Hihi, padahal emang dari rumah udah merencanakan mau jajan air kelapa). Nyebrang lah kami dan langsung mesen kelapa sebutir dan sluuuurrrppppp…seger banget itu air kelapa. Panas terik, kami pun iseng-iseng melanjutkan perjalanan naik angkot siang-siang. Kemana? Kemana ya? Sambil mikir ada gedung mana aja yang kira-kira disewakan ya.

Entah karena lagi kepanasan atau gimana, sekonyong-konyong waktu lihat hutan mini milik Departemen Kehutanan di Jalan Gunung Batu Bogor, saya pun berseru ke sopir angkot untuk segera berhenti. “Kiriiii….”

Pede ga pede, nanya deh ke satpam. “Pak ada gedung yang bisa disewa ga?” Hahaha…konyol banget. Lapangan basket sekolahan aja ga berani gue sewa, eh malah nanya ke gedung milik departemen lagi. Mana gedung tuanya kece lagi. Kalau disewain juga…mampu ga kamuuuu?

Satpam: “Coba tanya  ke petugas di gedung Dharma Wanita, Teh. Di belakang.”

Pak Satpam menunjukkan jalan menuju gedung tersebut. Aduh indah banget dalam komplek ini. Hutan mini dengan pohon-pohon yang teduh. Kayu-kayu tua gelondongan yang superguede  dipajang di beberapa koridor dan teras-teras gedung tua, mesjid yang luas dan adem. Kami melintasi jalan-jalan yang dihiasi rumput yang tertata rapi di kanan kirinya. Tapi sedikit pun enggak ciut tuh. Pikirku, kalau sewanya mahal ya, anggap aja tamasya gratis di kantor orang siang-siang terik begini.

Whaaaatttt??!! Saya Langsung Lihat Dompet

Sampai di gedung Dharma Wanita, kami disambut seorang ibu yang bilang cuma ada tanggal 10 dan 18 Oktober pagi di tahun ini yang masih kosong. Tanggal lainnya sampai akhir tahun depan  sudah penuh. Wuuh padahal itu sudah pertengahan September. Seorang ibu sepuh yang sepertinya hendak menyewa gedung untuk resepsi anak atau cucunya pun tampak kebingungan. Dia bilang, “Aduh saya yang mana ya, 18 Oktober mungkin, ya,” katanya. Maklum sih  bingung, soalnya  persiapan acara jadi buru-buru banget ya.  Sementara saya bingung, kalau langsung mastiin tanggal, tapi ternyata sewanya mahal, gimana loh???

Lagi bingung, petugas lain menghampiri dan langsung memberi penjelasan. “Mbak kalau sewa di sini resepsi sama akadnya dibedakan tempatnya ya. Kalau akadnya di mesjid, respsinya di gedung. Penyewaan hanya dilakukan di hari libur Sabtu dan Minggu. Bisa pilih waktu pagi dari jam 6 pagi sudah dibuka, sampai maksimal pukul 2 siang karena mulai pukul 3 sampai malam sudah ada persiapan untuk resepsi penyewa berikutnya.”

“Waduh, tempat resepsi sama akadnya dipisah. Berarti sewanya lebih mahal lagi ini,” batin saya.

“Kami hanya menyewakan gedung saja. Untuk setiap sesi pagi atau siang, tarif sewa gedung resepsi berikut mesjidnya sebesar Rp. 1,5 juta.”

Whaaaaattttt???!!” Pekik saya dalam hati.

“Baik, Bu. Saya pilih waktu mana aja deh yang kosong,” jawab saya. Udah syukur banget deh gue dapat tempat ini.

Petugas lainnya bilang: “Mbak kebagian tanggal 10 pagi ya. Soalnya ibu ini ambil yang tanggal 18 pagi,” katanya.

“Kalau udah pasti, langsung di DP-aja. Biar enggak dikasih ke orang lain,” katanya.

“DP-nya berapa, Bu?” tanya saya.

“250 ribu atau 300 ribu,” kata petugas.

Saya langsung intip uang di dompet. Persis cuma Rp 300 ribu. Untungnya lima puluh ribuan semua. Saya bayar 250 ribu. Yang lima puluh ribu lagi buat ongkos pulang dan menyenangkan hati atas rezeki hari ini. (Bersambung…)

~ oleh warungminum pada April 19, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: