TANDING WEDDING (3)

cincin

Semua Ada yang Mengatur

Selang sehari, kalau gak salah, petugas menelepon,  “Mbak tanggalnya bisa diganti, ga?”

Tanpa bingung-bingung saya jawab, “Bisa…bisa….” Padahal belum tahu tanggal berapa yang jadi gantinya, Kalau tahun depan, gimana?

“Bisa, Mbak?” tanya petugasnya riang-riang gimana gitu. “Bener, Mbak bisa diganti?” katanya seperti ga percaya.

“Iya, bisa aja. Tapi ke tanggal berapa ya, Bu?”

Petugas dari penyewaan gedung heran, kali. Aneh banget orang sewa gedung tapi belum punya tanggal pernikahan. Pasrah aja diganti ke sana kemari. Padahal sih saya juga bingung kalau mau cari gedung lain, cari dimana coba. Itu lebih membingungkan dibanding nyari tanggal. Tanggal mah cingcay. Undangan belum dipesan, begitu juga persiapan lainnya. Hihi…untungnya pengantin pria udah ada dan ga bisa dituker.

“Tanggal 18 ya, Mbak. Soalnya ibu yang kemarin bareng Mbak mau pindah tanggal.”

“Oke Bu.”

Segitu gampangnya. Padahal kan bisa didarmatisir tuh. Minta diskon gede karena perubahan tanggal atau apa kek. Hahaha…modus. Untung saya orangnya polos dan agak baik hati. *tutupmuka*

Setelah itu kami malah jadi semakin fokus bikin undangan, nyiapin tanda mata, berburu kain untuk seragam keluarga, menghubungi perias, dan lainnya.

Suatu hari tiba-tiba kami diminta pulang ke Jogja tanggal 10 Oktober dan diminta menikah secara agama aja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta tempat ayah mertua saya sedang dirawat. Tuh, kan semua sudah ada yang Maha Mengatur.  Hari itu juga saya langsung ambil baju kebaya entah punya siapa tanpa fitting-fittingan *BukanMauGulatJugaKan?*

Ibu, Bapak, Seorang Kakak Ipar, dan Kakak langsung pesan tiket dan cus….berangkatlah mereka. Saya sendiri berangkat duluan dengan calon suami dari Bandung. Cesgudjes..gudjes….*Camkan:ItuSuaraKeretaYa*

Keluarga saya sampai di Yogya tanggal 10 Oktober di waktu subuh.  Jam 8 baru sadar, saya cuma  bawa kebaya atasan tapi enggak bawa kain dan lainnya. Halah….padahal pakaian saya lainnya hanya celana jeans, loh. Masa nikahan pake celana jeans? Harusnya sih bisa ya. Tapi kan beda budaya, beda cara. Jadi saya dan kakak langsung lari ke luar hotel dan naik becak, minta diantar ke pasar Bringharjo. Ealaaaahhh….

Bingung di Bringharjo, beli kain batik itu ada pakem-pakemnya enggak ya. Lucu juga kalau nikah pake kain buat nutup jenzah, kan. Soalnya kami juga ga ngerti-ngerti banget soal batik. Maka kami putuskan beli kain yang batik  motif yang modern aja. Yang Pekalongan gitu. Cuma cari sana sini, warnanya ga ada yang cocok sama kebayanya. Mungkin karena panik juga ya. Kebaya yang dibawain warna gold. Trus dasar panik akhirnya tetep aja pilihannya ke kain warna coklat dengan motif yang tradisional kayaknya. Kami hanya berharap itu motif cocok dah ya. Hahaha….trus gimana cara make kainnya?   Saya teringat kalau sedang liputan seni budaya, penari anak-anaknya suka pake kain elastis yang cukup besar, tapi namanya ga tahu. Akhirnya tanya  pedagang di sana. Baru tahu tuh namanya…ah lupa lagi deh. (Bersambung…)

~ oleh warungminum pada April 20, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: