TANDING WEDDING (4)

baju

 

Baju Pengantinnya…Haduuuh Pamali yang Lain Ini Sih

Beres urusan gedung, saya pun mulai mikir soal pakaian seragam. Jauh sebelum ketemu dengan calon suami saya. Mungkin dia masih di kota asalnya. Saya sudah bekerja di kantor itu sebagai anak baru. Kebetulan kantor kami berada di sekitar factory outlet. Lagi iseng-iseng tiba-tiba lihat kain lucu banyak banget. Eh saya beli aja lima lembar. Ga tahu deh bawaannya kalau lihat kain tuh seneng aja belanja. Kainnya kayak kain songket dengan motif bunga sakura.

Nah, itu kain saya keluarin dan saya bawa ke penjahit sebelah rumah. Tarif jahitnya standard. Si Bapak memang jadi langganan kami bikin baju apa aja. Dari mulai betulin selimut sobek kesangkut paku  sampai kain kebaya untuk seragam pernikahan.

Tadinya mau sekalian bikin kebaya dan jas pengantin pula. Tapi kata ibu ga boleh punya baju pengantin, pamali. Suka sakit-sakitan atau apa gitu. Padahal ibu saya yang kuat perkasa sendiri nyimpen baju kebaya pengantinnya dulu. Ih curang deh. Tapi karena saya orangnya penurut *uhuk*, jadi saya ikutin aja deh.

Oh ya, bagaimana nasib kain songket untuk keluarga? Hehe, si Bapak Penjahit menjahitnya terbalik, saudara-saudara. Yang bagian dalam di luar dan yang luar di dalam. Kok bisa gitu ya? Dia bilang belum pernah megang kain itu. Ya sudahlah ya. Terserah deh, mau dipakai atau enggak. Pokoknya saya bagiin aja.

Bonus-Bonus Berlebihan

Gagal punya baju pengantin sendiri, jadi deh beban hidup saya berkurang. Saya tinggal cari perias pengantin yang juga menyewakan pakaian dan perlengkapan semua-muanya kalau bisa. Lagi-lagi, saya pake jurus lirik kiri-kanan rumah aja. Kebetulan sepelemparan rumah ada perias pengantin. Dia banyak merias pengantin di kampung-kampung. Saya datangin deh. Eih…eh…muraaaaaah semurah-murahnya. Ya ampyun sampe takjub deh. Cuma lima juta doang udah rias pengantin dan keluarga, dipinjemin sepasang baju pengantin untuk ijab (Padahal udah sih kalau ijab mah di Yogyakarta, tapi karena udah bayar penghulu, ya pengesahan aja secara negara, begitu) dan sepasang baju pengantin untuk resepsi, beberapa pasang baju beskap untuk para lelaki di keluarga saya, kain untuk keluarga yang perempuan untuk menggantikan kain songket yang kebalik, seragam pagar ayu dan pagar apa ya tuh,  berikut dekorasi pelaminan, sewa meja-meja untuk parasmanan, dan hiasan inisial atau apa lah yang dari ukiran es. Eh, di hari H masih ditambah pula sama  upacara tradisi yang ga kami order. Jadi deh kami tarik-tarikan bakakak ayam, lempar-lempar kendi, sawer-sawer permen dan koin, cuci kaki pake air kembang, dan apalagi ya? Trus kami  juga dikasih bonus lain dengan datangnya para pemain musik kacapi suling di atas panggung. Oh ya, itu panggung  dibonusin sama pihak pengelola gedung kayaknya. Pokoknya enggak jelas deh siapa yang ngasih panggung. Pokoknya tahu-tahu ada aja. Padahal ga mesen dan lupa juga sampai sekarang nanya itu bonus dari siapa.

Hasil riasannya, ya lumayan lah. Pasti pangling wong suami saya enggak pernah pakai lipstik, di-lipstik-in kok. Hahaha…. Saya sendiri emang jaraaaang banget bedakan, lipstikan, apalagi yang lain-lainnya, ya udah jelas manglingin lah. Gak usah ditanya. Masalah cantik enggak sih, bukan urusan saya. Itu mah urusan Tuhan Yang Maha Kuasa dan urusan selera *Ngeles*.

Duh…Maluuuuu

Trus..trus…baju pengantinnya keren ga? Enggak tahu ya. Kalau untuk resepsi sih nyaman-nyaman aja. Oh ya, kalo soal warna itu agak menggelikan juga. Warnanya kombinasi kuning dan hitam. Kuning…catat itu.,.kuning. Bukan warna favorit banget. Tapi karena yang lainnya warnanya lebih gonjrang-gonjreng, ya udah deh, kuning aja. Kuning kunyit gitu. Gak ngaruh juga lah. Yang penting, kan bisa menyambut tamu yang mendoakan kami dengan pakaian yang pantas. Itu saja.

Nah, kalau baju saya untuk akad itu yang…haduh. Malu saia. Bukan, bukan karena jelek. Tapi karena transparan. Haduh…haduh….Jadi ceritanya, Ibu perias pengantin bilang kalau akad mau kebaya putih atau krem, dia belum ada. Oh, saya seperti bisa bilang, “Ga apa-apa, Ceu. Nanti saya cari.”

Bener dong saya cari. Minjem di perias pengantin lain di sebelah kiri rumah. Oh ya, rumah si Euceu yang saya pakai jasanya ada di sebelah kanan rumah saya. Udah dapat kebaya yang cocok deh. Pas segala-galanya. Sederhana juga bahannya.  Kebaya dari bahan apa tuh ya. Pokoknya  kainnya itu bertekstur kayak bordiran penuh, warna senada dengan dasar kainnya. Motifnya bunga kecil kayak bunga melati gitu. Ah gak ada barang buktinya sih ya. Warnanya putih gading. Pokoknya udah cocok deh.

Hm…tapi rupanya entah persaingan atau (lagi-lagi) pamali, entahlah. Tepat di hari H, saat dirias, Si Euceu pun meminta saya tidak memakai kebaya itu, melainkan  pakai kebaya yang dia bawa. Kebaya krem, gombrong dan transparan. Haduh…dan lagi-lagi saya bilang, “Oke, gak apa-apa.” Hihihi…padahal maluuuu. Tapi bodo amat ah. Anggap aja suka duka resepsi pernikahan. Haha…. (Bersambung…)

~ oleh warungminum pada April 21, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: